Sabtu, 10 September 2016

Pengertian Geostrategi indonesia

GEOSTRATEGI INDONESIA 

BAB I PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi di bidang hukum dan politik telah banyak dilakukan, namun kenyataannya tidak membawa perubahan yang berarti dalam kehidupan rakyat, terutama menyangkut kesejahteraan, baik lahir maupun batin. Dalam perkembangan kehidupan kenegaraan, nampak arah prinsip konstitusionalisme dan demokrasi sangat dominan. Pendidikan kewarganegaraan sebenarnya dilakukan dan dikembangkan di seluruh dunia, meskipun dengan berbagai macam istilah atau nama. Matakuliah tersebut sering disebut sebagai civic education, citizenship education, dan bahkan ada yang menyebut sebagai democracy education. Matakuliah ini memiliki peran yang strategis dalam mempersiapkan warga negara yang cerdas, bertanggung jawab dan berkeadaban. Berdasarkan rumusan “Civic International” (1995), disepakati bahwa pendidikan demokrasi penting untuk pertumbuhan civic culture, untuk keberhasilan pengembangan dan pemeliharaan pemerintahan demokrasi (Mansoer, 2005). Objek pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan menurut Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi No.43/DIKTI/KEP/2006 salah satu yang menjadi substansi kajiannya adalah Geostrategi Indonesia. Di mana Pancasila merupakan dasar filosofi geostrategi Indonesia. Hal ini berdasarkan analisis sistematis bahwa Pancasila merupakan core philosophy dari Pembukaan UUD 1945, yang menurut ilmu hukum berkedudukan sebagai staatfundamentalnorm. Geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional dengan memanfaatkan geopolitik Indonesia. Dengan Pancasila sebagai dasarnya, maka pembangunan Indonesia akan memiliki visi yang jelas dan terarah. 1.2 Rumusan Masalah Adapun dalam pembahasan makalah yang berjudul Geostrategi Indonesia ini mengangkat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa pengertian Geostrategi? 2. Apa saja sifat – sifat geostrategi Indonesia? 3. Apa yang dimaksud dengan Ketahanan Nasional? BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Geostrategi Geostrategi merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografi negara untuk menentukan tujuan dan kebijakan negara. Geostartegi merupakan pemanfaatan lingkungan untuk mencapai tujuan nasional. Geostrategi juga merupakan metode mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan dan Undang-Undang Dasar 1945. Geostrategi juga untuk mewujudkan dan mempertahankan integrasi bangsa dalam masyarakat majemuk dan heterogen. Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud ketahanan nasional, sehingga bisa dikatakan geostartegi adalah ketahanan nasional itu sendiri. Ketahanan nasional itu sendiri adalah suatu kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan maupun gangguan yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional. Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita ketahui geostrategi ketahanan nasional bukan hanya mencakup ketahanan di bidang pertahanan dan keamanan, melainkan di segala bidang yang dapat mendukung integritas, identitas, kelangsungan hidup dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional di antaranya mencakup bidang ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan negara. Di dalam imlplementasi geostrategi ini, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), memiliki peranan yang sangat krusial. Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau, maka tidak dapat disanggah lagi bahwa kebutuhan akan komunikasi dan informasi sangatlah penting. TIK berperan dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk melakukan komunikasi dan bertukar informasi yang dapat mencakup seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia. Bayangkan saja semisal Indonesia tidak memiliki Teknologi Komunikasi yang memadai, jika suatu saat di suatu pulau atau daerah terjadi bencana dan daerah tersebut tidak bisa menghubungi daerah lain karena keterbatasan teknologi yang kita miliki, tentu saja hal tersebut akan mencoreng ketahanan nasional yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai contoh yang belum lama terjadi yaitu ketika terjadi tsunami di kepulauan Mentawai, dimana informasi bencana tersebut baru tersebar setelah beberapa hari. Padahal selama beberapa hari tersebut saudara-saudara kita di sana banyak yang menderita dan membutuhkan bantuan. Selain itu TIK yang memadai, harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi bukan hanya di darat saja tetapi juga di laut, mengingat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan. Didalam upaya menjaga pertahanan dan keamanan perairan Indonesia, TIK akan membantu memperlancar komunikasi dan koordinasi antar kapal. Dengan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat mencakup pulau-pulau dan perairan di seluruh Indonesia, maka diharapkan TIK ini akan mendukung kesatuan seluruh wilayah negara Indonesia.Suatu strategi memanfaatkan kondisi geografi Negara dalam menentukan kebijakan, tujuan, sarana untuk mencapai tujnas (pemanfaatan kondisi lingkungan dalam mewujudkan tujuan politik). 1. Geostrategi Indonesia diartikan pula sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan dan UUD 1945. 2. Ini diperlukan untuk mewujudkan dan mempertahankan integrasi bangsa dalam masyarakst majemuk dan heterogen berdasarkan Pembukaan dan UUD 1945. 3. Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud Ketahanan Nasional. Geostrategi Indonesia tiada lain adalah ketahanan nasional. 4. Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala AGHT baik yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional. 5. Menggunakan kerangka pikir Pancasila yang komprehensif-integral, dalam IPTEK dikenal dengan pemikiran kesisteman. Sedangkan sub sistemnya berupa aspek kekuatan alamiah dan aspek kekuatan sosial. 6. Dalam pengaturan dan penyelenggaraan negara (kehidupan nasional) masalah keamanan dan kesejahteraan ibarat sebagai sebuah koin. Satu sisi merupakan gambaran kesejahteraan, sisi yang lain adalah gambaran keamanan. 7. Ketahanan Nasional merupakan integrasi dari ketahanan masing-masing aspek kehidupan sosial. 2.2 Sifat- Sifat Geostrategi Indonesia 1. Bersifat daya tangkal. Dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalangeostrategi Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk ancaman,gangguan, hambatan dantantangan terhadap identitas, integritas,eksistensi bangsa dan negara Indoesia. 2. Bersifat developmental/pengembangan.yaitu pengembangan potensi kekuatanbangsa dalam ideologi, politik, ekonomi,sosial budaya, hankam sehingga tercapai kesejahteraan rakyat. 2.3 PengertianHakikat Ketahanan Nasional Pengertian Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa, yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari luar negeri, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mengejar tujuan nasional Indonesia (Suradinata, 2005: 47). Dalam hubungan dengan realisasi pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, maka filsafat Pancasila merupakan esensi dari ‘staatsfundamentalnorm’ atau pokok kaidah negara yang fundamental. Konsekuensinya Pancasila merupakan suatu pangkal tolak derivasi duari seluruh peraturan perunfang-undangan di Indonesia, termasuk hukum dasar dan selurh system hokum positif lainnya (Kaelan, 2004). Sementara itu dalam hubungannya dengan ketahanan nasional, dalam konsepsi dan seluruh pelaksanaannya harus memiliki landasan yuridis yang jelas. Atas dasar pengertian inilah maka landasan konstitusional atau landasan yuridis ketahanan nasional Indonesia adalah UUD 1945, yang bersumber pada dasar falsafah Pancasila. 2.3.1 Konsepsi Ketahanan Nasional Secara konseptual, ketahanan nasional suatu bangsa dilatarbelakangi oleh: 1. Kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa dan negara sehingga ia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya 2. Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan negara sehingga ia selalu mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, meskipun mengalami berbagai gangguan, hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar. 3. Ketahanan atau kemampuan bangsa untuk tetap jaya, mengandung makna keteraturan (regular) dan stabilitas, yang di dalamnya terkandung potensi untuk terjadinya perubahan (the stability idea of changes) (Usman, 2003:5). Berdasarkan konsep pengertiannya maka yang dimaksud dengan ketahanan adalah suatu kekuatan yang membuat suatu bangsa dan negara dapat bertahan, kuat menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan. Tantangan adalah merupakan suatu usaha yang bersifat menggugah kemampuan, adapun ancaman adalah suatu usaha untuk mengubah atau merombak kebijaksanaan atau keadaan secara konsepsional dari sudut kriminal maupun politis. Adapun hambatan adalah suatu kendala yang bersifat atau bertujuan melemahkan yang bersifat konseptual yang berasal dari dalam sendiri. Apabila hal hal tersebut berasal dari luar maka dapat disebut sebagai kategori gangguan. 2.3.2 Berdasarkan pengertian sifat-sifat dasar ketahanan nasional adalah: a. Integratif Hal itu mengandung pengertian segenap aspek kehidupan kebangsaan dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan alam dan suasana ke dalam saling mengadakanpenyesuaian yang selaras dan serasi. b. Mawas ke dalam Ketahanan nasional terutama diarahkan kepada diri bangsa dan negara itu sendiri, untuk mewujudkan hakikat dan sifat nasionalnya. Pengaruh luarnya adalah hasil yang wajar dari hubungan internasional dengan bangsa lain. c. Menciptakan kewibawaan Ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat integrative mewujudkan suatu kewibawaan nasional serta memiliki deterrent effect, yang harus diperhitungkan pihak lain. d. Berubah menurut waktu Ketahanan nasional suatu bangsa pada hakikatnya tidak bersifat tetap, melainkan sangat dinamis. Ketahanan nasional dapat meningkat atau bahkan dapat juga menurun, dan hal ini sangat tergantung kepada situasi dan kondisi. Konsepsi ketahanan nasional tidak memandang aspek-aspek alamiah dan kemasyarakatan secara terpisah-pisah melainkan meninjaunya secara korelatif, di mana aspek yang satu senantiasa berhubungan erat dengan lainnya, sedangkan keseluruhannya merupakan suatu konfigurasi yang menimbulkan daya tahan nasional. 2.3.3 Ketahanan Nasional sebagai Kondisi Ditinjau dari segi sifatnya maka sebenarnya konsepsi ketahanan nasional tersebut bersifat objektif dan umum, oleh karena itu secara teoritis dapat diterapkan di negara manapun juga. Dalam hubungan dengan penerapan konsepsi tersebut faktor situasi dan kondisi negara sangat menentukan. Oleh karena itu meskipun secara konsepsional sama, namun karena situasi dan kondisi negara berbeda-beda, maka wujud ketahanan nasional akan berbeda-beda pula. Dalam hubungan dengan ketahanan nasional Indonesia dengan memperhatikan berbagai macam bahaya, gangguan yang mengancam, serta situasi dan kondisi dalam negara Indonesia, maka ditentukan strategi untuk memertahankan kelangsungan hidup negara Indonesia. Bagi bangsa dan negara Indonesia bahaya yang mengancam dapat berupa subversi dan infiltrasi terhadap semua bidang kehidupan masyarakat, serta adanya kelemahan-kelemahan yang inheren denga suatu masyarakat majemuk yang sedang membangun, maka strategi yang dipilih adalah strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, maka cara yang dipilih adalah dengan memantapkan ketahanan nasional. Strategi ini ditentukan berdasarkan pengalaman sendiri, yang kemudian diolah dan disistematisir hingga menjadi doktrin. Demikianlah maka ketahanan suatu bangsa adalah merupakan suatu persoalan universal, sedang cara dan strategi yang ditentukan berbeda-beda. Terdapat berbagai istilah misalnya strategy of interdependence, strategy of limited war, sedangkan bagi bangsa Indonesia dikembangkan konsepsi strategi ketahanan nasional (Suradinata, 2005: 50). 2.3.4 Asas- Asas Ketahanan Nasional Indonesia Asas Ketahanan Nasional Indonesia adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nasional yang terdiri dari : 1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia 8 yang mendasar dan esensial, baik sebagai perorangan maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam sistem kehidupan nasional dan merupakan nilai intrinsik yang ada padanya. Dalam realisasinya kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai dengan menitikberatkan pada kesejahteraan tetapi tidak mengabaikan keamanan. Sebaliknya memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Oleh karena itu, keduanya harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apapun sebab keduanya merupakan salah satu parameter tingkat ketahanan nasional sebuah bangsa dan negara. 2. Asas Komprehensif Intergral atau Menyeluruh Terpadu Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh dan terpadu dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, ketahanan nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif integral) 3. Asas mawas ke dalam dan mawas ke luar Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Disamping itu, sistem kehidupan nasional juga berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam prosesnya dapat timbul berbagai dampak baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas kedalam dan ke luar. • Mawas kedalam: mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilainilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh. Hal itu tidak berarti bahwa ketahanan nasional mengandung sikap isolasi dan atau nasionalisme sempit (chauvinisme). • Mawas ke luar: mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri, serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional. Untuk menjamin kepentingan nasional, kehidupan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan nasional, agar memberikan dampak keluar dalam bentuk daya tangkal dan daya tawar. Namun demikian, interaksi dengan pihak lain diutamakan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan. 4. Asas kekeluargaan Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong-royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam asas ini diakui adanya perbedaan yang harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat antagonistik yang saling menghancurkan. BAB III PENUTUP Kesimpulan Geostrategi merupakan metode atau aturan-aturan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan melalui proses pembangunan yang memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi pembangunan dan keputusan yang terukur dan terimajinasi guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman, dan bermartabat. Geostrategi Indonesia diperlukan dan dikembangkan untuk mewujudkan dan mempertahankan integritas bangsa dan wilayah tumpah darah negara Indonesia, megingat kemajemukan bangsa Indonesia serta sifat khas wilayah tumpah darah negara Indonesia, maka geostrategi Indonesia dirumuskan dalam bentuk Ketahanan Nasional. Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa, yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari luar negeri, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mengejar tujuan nasional Indonesia. Ketahanan Nasional berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, diantaranya aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan aspek pertahanan dan keamanan.

Jumat, 09 September 2016

Defination vocabulary



VOCABULARY















Disusun oleh :
Kelompok 4

1.      Indah pratiwi (1502050152)
2.      Lydia suci antika (1502050153)
3.      Winda putri lestari (1502050154)
4.      Cahyani  wulandari (1502050155)
5.      Kiky lestari (1502050160)
6.      Mutiara ulfah (1502050161)
7.      Dinda sari utami (1502050163)
8.      Hijah monika sari (1502050164)
9.      Mudrika fitri (1502050168)

Kelas : II C Pagi
Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris
Mata Kuliah : Vocabulary
Dosen : Rita Harisma S.Pd., M.Hum.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2015/2016


A.    Definition of vocabulary
Vocabulary is a basic component in communication. Vocabulary is also very important for the acquisition process. If acquires do not recognize the meaning of the key word use by those who addressed them, they will be unable to participate in conversation.Vocabulary is the collection of words that an individual knows (Linse,2005:121). There are some experts who give definitions of vocabulary. Hatch and Brown (1995:1) define that vocabulary as a list of words for a particular language or a list or set of word that individual speakers of language might use. Furthermore, in Webster Dictionary (1985:1073), vocabulary is define as a list or collection of words usually alphabetically arranged and explained or lexicon, stock of words use in language or by class, individual, etc. While according to Roget (1980:1036), vocabulary is:
a.       A list of words often defined or translated.
b.      All the words of Language.
c.       Specialized expression which are indigenous to a particular field, subject, trade or subculture.
Vocabulary is an important aspect in teaching language, as stated by Edward (1997:149), “Vocabulary is one of the important factors in all language teaching; students must continually learn words as they learn structure and as they practice sound system”. Sometimes, it’s difficult to determine the words that students related to vocabularies such as: meaning, spoken/written forms, collocations, connotatons, grammatical behavior, etc.(Linse,2005:121). According to Richards (2002:255), vocabulary is the core component of language proficiency and provides much of the basis for how well learners speak, listen, read, and write. Jackson and Amvela (2000:11) say that the terms of vocabulary, lexis, and lexicon are synonymous.Vocabulary is one of the language components that can affect macro skills. Some definition of vocabulary is proposed by some experts.  Nunan (1999: 101) states that vocabulary is a list of target language words.
Furthermore, Jackson and Amvela (2000: 11) say that the terms vocabulary, lexis, and lexicon are synonymous. In addition, Richards and Schmidt (2002:580) state that vocabulary is a set of lexeme, including single words, compound words, and idioms.Vocabulary is the total number of words in a language; all the words known to a person or used in a particular book, subject, etc; a list of words with their meaning, especially one that accompanies a textbook (Hornby,1995: 1331). Those definitions show that vocabulary is the first element that the English learners should learn in order to master English well besides the other English components and skills. Talking about vocabulary, Lehr, Osborn, and Hiebert (in Kamil and Hiebert, 2005: 2-3) define vocabulary as knowledge of words and words meaning in both oral and print language and in productive and receptive forms. More specifically, they use it to refer to “the kind of word that students must know to read increasingly demanding text with comprehension.” Harmer (1991: 158) summarizes that knowing a word (vocabulary) means knowing about meaning, word use, word formation, and word grammar.

B.     Types of vocabulary
There are some types of vocabulary as stated by Nation (1990), Aeborsold and Field (1997). They are active or productive vocabulary and passive or receptive vocabulary.
Active or productive vocabulary refers to language items which learner can use appropriately in speaking or writing (Aeborsold and Field,1977:139). It is line with Nation (2003:25) who states that productive vocabulary refers to the words that students can pronounce, spell and write. It involves how to use the words in grammatical pattern.
Examples of active or productive vocabulary:
·         Flowers
·         Sun
·         Wind
·         Heart
·         Soul
·         (times) advance, etc.
Passive or receptive vocabulary refers to language items that can be recognized and understood in the context of reading or listening (Aeborsold and Field, 1977). This receptive vocabulary, as stated by Nation (1990), refers to the words that students can be organized when they are heard and they are expected to be able to distinguish a word which has similar sound.
Examples of passive or receptive vocabulary:
·         Heart
·         Soul
·         Nautical, etc.
From the explanation above, it can be concluded that there are different types of vocabulary, this is relevant to the fact that people have different ways in understanding words in terms of visual, aural, oral and written words. Not all words suit that are neede by the learners, so vocabulary selection is important to be considered to teach learners and these criteria for vocabulary selection will be discussed below.
In addition to the two type of vocabulary there are four types of vocabulary.
There are 4 types of vocabulary:
Ø  Listening
Ø  Speaking
Ø  Reading
Ø  Writing
The first two constitute spoken vocabulary and the last two, written vocabulary.Children begin to acquire listening and speaking vocabularies many years before they start to build reading and writing vocabularies. Spoken language forms the basis for written language. Each type has a different purpose and, luckily, vocabulary development in one type facilitates growth in another.
 
Ø  Listening Vocabulary:
The words we hear and understand.  Starting in the womb, fetuses can detect sounds as early as 16 weeks.  Furthermore, babies are listening during all their waking hours – and we continue to learn new words this way all of our lives.  By the time we reach adulthood, most of us will recognize and understand close to 50,000 words.(Stahl,1999; Tompkins, 2005) Children who are completely deaf do not get exposed to a listening vocabulary.  Instead, if they have signing models at home or school, they will be exposed to a “visual” listening vocabulary.  The amount of words modeled is much less than a hearing child’s incidental listening vocabulary.

Ø  Speaking Vocabulary:
The words we use when we speak.  Our speaking vocabulary is relatively limited:  Most adults use a mere 5,000 to 10,000 words for all their conversations and instructions.This number is much less than our listening vocabulary most likely due to ease of use.

Ø  Reading Vocabulary:
The words we understand when we read text.  We can read and understand many words that we do not use in our speaking vocabulary. This is the 2nd largest vocabulary IF you are a reader.  If you are not a reader, you can not “grow” your vocabulary.

Ø  Writing Vocabulary:
The words we can retrieve when we write to express ourselves.  We generally find it easier to explain ourselves orally, using facial expression and intonation to help get our ideas across,then to find just the right words to communicate the same ideas in writing.  Our writing vocabulary is strongly influenced by the words we can spell. for example:
  • if there are a number of synonyms, a writer will have his own preference as to which of them to use.
  • he is unlikely to use technical vocabulary relating to a subject in which he has no knowledge or interest.

C.    How to expand vocabulary
1.      Read, read, and read.
The more you read especially novels and literary works, but also magazines and newspapers the more words you'll be exposed to. As you read and uncover new words, use a combination of attempting to derive meaning from the context of the sentence as well as from looking up the definition in a dictionary.

2.      Keep a dictionary and thesaurus handy.
Use whatever versions you prefer in print, software, or online. When you uncover a new word, look it up in the dictionary to get both its pronunciation and its meaning(s). Next, go to the thesaurus and find similar words and phrases -- and their opposites (synonyms and antonyms, respectively) and learn the nuances among the words.
3.      Use a journal.
It's a good idea to keep a running list of the new words you discover so that you can refer back to the list and slowly build them into your everyday vocabulary. Plus, keeping a journal of all your new words can provide positive reinforcement for learning even more words especially when you can see how many new words you've already learned.
4.      Learn a word a day.
Using a word a day calendar or Website or developing your own list of words to learn is a great technique many people use to learn new words. This approach may be too rigid for some, so even if you do use this method, don't feel you must learn a new word every day.(Find some word a day, websites at the end of this article.)
5.      Go back to your roots.
One of the most powerful tools for learning new words and for deciphering the meaning of other new words is studying Latin and Greek roots. Latin and Greek elements (prefixes, roots, and suffixes) are a significant part of the English language and a great tool for learning new words. (Follow these links for the sections of this site that provide English Vocabulary Derived from Latin and English Vocabulary Derived from Greek.)
6.      Play some games.
Word games that challenge you and help you discover new meanings and new words are a great and fun tool in your quest for expanding your vocabulary. Examples include crossword puzzles, anagrams, word jumble, Scrabble, and Boggle. (Find some word-game Websites at the end of this article.)

7.      Engage in conversations.
Simply talking with other people can help you learn discover new words. As with reading, once you hear a new word, remember to jot it down so that you can study it later  and then slowly add the new word to your vocabulary.

D.    How to teaching  vocabulary
v  Focus on vocabulary
Give vocabulary a high profile in the syllabus and the classroom so that students can see its importance and understand that learning a language isn’t just about learning grammar (O’Dell 1997). It may be worth teaching students an easier formulation of Wilkins’s (1972) view that “without grammar very little can be conveyed, without vocabulary nothing can be conveyed.”
One of the first vocabulary learning strategies for any classroom is how to ask for words you don’t know in English, and how to ask the meaning of English words you don’t understand, so phrases like “What’s the word for in English?,” “How do you say ?,” and “What does  mean?” are useful to teach at the basic levels. As students progress, another useful strategy they can use is to paraphrase: “It’s a kind of,”  “It’s like a,” and “It’s for -ing X” etc. Focusing on these strategies puts vocabulary learning firmly on the classroom agenda.
An important vocabulary acquisition strategy which Nation (2001) calls “noticing” is seeing a word as something to be learned. In this view, knowing what to learn is a necessary prerequisite to learning. Teachers can help learners get into the habit of noticing by making clear in classroom instruction and homework assignments: which items should be learned, what each item is (a single word, a phrase, a collocation etc.) and for what purpose (active use or passive recognition). And materials can help teachers in this in the following ways:
ü  Providing clearly marked vocabulary lessons
ü  Making the target vocabulary set stand out, including focused practice and regular review
ü  Giving lists of vocabulary to be learned for the lesson
Structured vocabulary notebook exercises which are designed to make students focus on a particular vocabulary set or feature are a good way of developing this noticing strategy.

v  Offer variety
Tomlinson (1998) suggests a number of principles for developing successful materials. The first of these is that “Materials should achieve impact.” He suggests that this can be done with unusual and appealing content,attractive presentations, and variety. Teachers can use different ways to present vocabulary including pictures, sounds, and different text types with which students can identify: stories, conversations, web pages, questionnaires, news reports,etc. In each of these contexts, topics should be relevant to students’ interests.
Similarly, practice activities should vary and engage students at different levels. These should range from simple listen-and-repeat type of practice through controlled practice to opportunities to use the vocabulary in meaningful, personalized ways. Offering variety also means catering to different learning styles,and as Tomlinson notes, some students may use different learning styles for different types of language or in different learning situations. So this means offering activities that sometimes appeal to learners who are more “studial” and “analytic” (those who need to analyze the language and to be accurate in their use of it) as well as learners who are “experiential” and “global” (those who are less concerned with accuracy as with learning whole chunks of language) and catering to students who prefer to learn either by seeing, hearing, or doing something.

v  Repeat and recycle
Learning vocabulary is largely about remembering, and students generally need to see, say, and write newly learned words many times before they can be said to have learned them. Some researchers have suggested various numbers of encounters with a word for learning to take place, ranging from five to up to twenty [see, e.g., Nation (1990); Rott (1999); Ghadirian (2002)]. Some suggest that an impressive amount of learning can take place when students learn lists of paired items (English word and translation equivalents); others suggest that this method of learning does not aid deeper understanding of the words or help develop fluency.
However, most agree that repetition is an important aid to learning and that having to actively recall or “retrieve” a word is a more effective way of learning than simple exposure or just seeing a word over and over (Sökmen 1997). Researchers also agree that repeating words aloud helps students remember words better than repeating them silently. Another area of research is how long students can remember words after first learning them, and again researchers agree that forgetting mostly occurs immediately after we first learn something, and that the rate of forgetting slows down afterward [see Gu (2003)]. The implications for the vocabulary classroom are self-evident:
Review vocabulary as often as possible in activities that have students actively
recall words and produce them rather than merely see or hear them.

v  Provide opportunities to organize vocabulary
Organizing vocabulary in meaningful ways makes it easier to learn (Schmitt 1997; Sökmen 1997). Textbooks often present new vocabulary in thematic sets as an aid to memory, but there are other types of organization and these can be described under three broad headings: real-world groups, language-based groups, and personalized groups, examples of which are given below.
§  Real-world groups occur in the real world, such as the countries within each continent, parts of the body, the foods in each food type (carbohydrate, protein, fats, etc.), activities that take place for a celebration (e.g., at a wedding), expressions people typically use in everyday situations (e.g., when someone passes an examination, has bad luck, etc.). Students can draw on their general knowledge to group English vocabulary according to concepts with which they are already familiar.
§  Language-based groups draw on linguistic criteria as ways of grouping, for example, the different parts of speech of a word family; words that have the same prefix or suffix, or the same sound; verbs and dependent prepositions; collocations of different kinds (verb + noun; adjective + noun, etc.).
§  Personalized groups use students’ own preferences and experiences as the basis for the groups. It might include grouping vocabulary according to likes and dislikes, personal habits or personal history, for example, foods that you like and don’t like, or eat often, sometimes, rarely, or that you ate for breakfast, lunch, and dinner yesterday. Making vocabulary personal helps to make it more memorable.
There are many different ways of practicing newly presented vocabulary in class, from repeating the words, controlled practice, or reacting to the content in some way, to using the vocabulary to say true things about oneself. For example, in learning the vocabularyof countries, students can:
          i.          Listen to the names of countries and repeat them
        ii.          Identify the countries they know in English, and add new ones
      iii.          Say which languages people speak in different countries
      iv.          Say which countries are near their own, or which they have personal connections with (I’m from . . . ; My brother lives in . . . ,etc.), or which they would like to visit
At this point, a useful step is to take time to organize the new vocabulary in some way that allows students to “notice” and bring together the target words as the basis for a communicative activity or to have a clear record for review purposes, or both. Students often write translations above new words in their textbook and these can be spread around the page; an organizing activity like the one shown in Figure 8 helps systematize their note taking and provides further personalized practice.

v  Make vocabulary learning personal
Related to the point above, materials should provide opportunities for students to use the vocabulary meaningfully, to say and write true things about themselves and their lives. Students should be encouraged to add vocabulary they want to learn, too. And if the experience of learning is also enjoyable, so much the better! One note of caution is that personalization may be more appropriate for some students than others. In a large study of vocabulary learning strategies used by students at different ages, Schmitt (1997) reports that younger (junior high school) students found that personalization was less helpful to them than the older students in university and adult classes.

v  Don’t overdo it!
Another important point is not to overload students – there are limits to how much vocabulary anyone can absorb for productive use in one lesson and this will be affected by how “difficult” the words are and how much students are required to know about them [on the notion of difficulty, see Laufer (1997)]. If vocabulary sets ever seem too daunting for students, allow them to choose which items they want to prioritize.

v  Use strategic vocabulary in class
Since the classroom may be the main or only place that students hear or use English, it’s important to include in lessons the strategic vocabulary,as it makes up so much of spoken vocabulary. If the textbook doesn’t include this as part of the syllabus or contain presentation
and practice activities, it will be up to the teacher as the most experienced user of English to find ways to introduce this type of vocabulary in class. It might be useful here to look at the different types of talk that happen in classrooms, which Walsh (2006) divides into four “modes”: managerial, materials, skills and systems, and classroom context, each of which has different teaching aims and can include different functions.
-        Managerial mode refers to the way teachers organize the class and move between activities. In doing this, it’s possible to use a range of basic discourse markers for starting, concluding, and changing topics, such as All right/Okay, So, Let’s start, Let’s move on.
Although Walsh sees this type of talk primarily as the teacher’s, as the one who organizes and manages what happens in the classroom, there are aspects of managerial talk that students can usefully learn to help them organize pair and group work (OK,let’s change roles; That’s it, we’re finished), or to interact with the teacher in order to change the way the class proceeds (Could you explain that again, please?).
-        Materials mode refers to the talk that takes place when teachers and students are doing an activity in the materials. This includes eliciting answers from students, checking and explaining answers, and giving feedback on answers. In this type of talk, it would be useful for teachers to model different kinds of responses when evaluating students’ answers (That’s right; Excellent) and when seeking clarification (You mean . . . ?; He went where?).
-        Skills and systems mode is the largely teacher-directed talk that goes on when the teacher is trying to get students to use a particular language item or skill and will involve the teacher in giving feedback, explaining, and correcting. In this mode teachers can model phrases for reformulation (I mean . . .) and for organizing and staging information (Now, . . . First of all, . . .).
-        Classroom context mode refers to the type of language learners use when they are talking about their personal experience or feelings – sometimes called “freer practice activities.” Here the teacher’s role is to listen and support the interaction, which is the most like casual conversation that learners will engage in. Teachers can support these “conversations” by teaching all the types of strategic vocabulary, in order to help students manage their own talk, relate to other students respond, and manage the conversation as a whole.
See also McCarthy and Walsh (2003) for an overview of the four modes and the ways that teachers can teach and promote natural conversational language in class.